Jika Dia Mengecewakanmu

"Kamu menyayanginya?"
"Tentu"
"Bagaimana semisal aku merebutnya?"
"Coba saja"
"Bagaimana jika ia tergoda dan memilih bersamaku?"
"Maka aku akan merebutnya kembali, Alea."
"Apa kamu yakin? Kenapa kamu tidak meninggalkannya?"

Aku menghela nafas menanggapi pertanyaan Alea, sahabatku. Dia selalu begitu, suka mengandai-andai dan memisal-misalkan. Tapi Alea bukan orang yang bisa di abaikan. Sekalipun dirasa pertanyaannya bukan sesuatu yang penting, Alea akan terus mendesak hingga ia menemukan jawaban yang cukup membuatnya puas.

"Kamu sedang memisal-misalkan lagi, kan? Baiklah akan aku jawab pertanyaanmu.
Jika kamu tanya setahun atau dua tahun yang lalu, maka jawabanku adalah aku akan meninggalkannya.
Tapi saat ini berbeda, Alea. Banyak hal yang aku pelajari, banyak cerita yang aku dengar, dan itu sedikit banyak merubah sudut pandangku. Jadi jika kamu tanya hari ini, jawabanku adalah aku akan mempertahankannya.
Alea, dia itu kekasihku, milikku. Jika ada seseorang yang harus dia tinggalkan, maka itu adalah sang wanita perebut, bukan aku. Jika ada seseorang yang harus meninggalkannya, maka itu adalah sang wanita perebut, bukan aku. Mungkin rasanya akan sakit dan sulit, Alea. Tapi bukankah begitu harusnya cinta? Saling memperjuangkan? Jika ia alpa maka harusnya aku mengingatkan, jika ia salah maka harusnya aku mebenarkan, begitupun sebaliknya." Jawabku.

"Wow... Aku rasa kamu bukan sahabatku. Kemana harga diri dan ego yang selalu kamu agung-agungkan, Rana?" balas Alea.

"Alea, pernah kamu melihat? Bagaimana seorang istri menghapus air matanya saat mendapati suaminya makan malam bersama wanita lain, kemudian besoknya ia tetap memasak makanan untuk keluarganya dengan sabar?
Atau pernah kamu membayangkan? Bagaimana seorang suami dengan lapang dada mengajak istrinya pulang saat mendapati ia dipeluk oleh laki-laki lain? Kemudian ia mampu memaafkan istrinya dengan ikhlas dan melupakan pengkhianatannya untuk kembali hidup berdampingan setiap hari?
Atau coba jawab pertanyaanku, Alea
Kamu tahu bagaimana rasanya bertahan dalam suatu pernikahan demi anak-anak?
Bertemu setiap hari, hidup bersama dengan segala luka dan kekecewaan?
Atau dalam lain hal, bagaimana hancurnya seorang wanita yang tengah hamil lalu memergoki suaminya tidur dengan wanita lain, namun ia harus tetap kuat demi jabang bayi yang ada di perutnya?

Alea, Aku banyak belajar dari kisah-kisah itu, bagaimana berjuang dan bertahan. Aku tidak akan pernah bisa menyandingkan rasa sakit yang aku rasakan sebanding dengan apa yang dirasakan mereka. Aku masih beruntung, mudah untuk meninggalkan jika aku dikhianati. Lalu bagaimana dengan mereka? Apa yang harus mereka pilih selain berjuang dan bertahan untuk merebut haknya kembali, Alea?"

Alea mengangguk-angguk paham. Namun ia masih belum puas.
"Kalau begitu, enak sekali dong kekasihmu? Bagaimana jika ia mudah tergoda? Kamu akan memperjuangkannya terus-terusan? Kamu akan memaafkannya lagi dan lagi? Bagaimana jika ia memanfaatkanmu? Hahaha"

Aku tahu Alea akan menanyakannya, dan aku telah menyiapkan jawabannya.
"Jika sabar tidak ada batasnya, namun cinta dan sayang ada. Ia bisa terkikis rasa kecewa dan tergerus habis jika terus-terusan dikhiniati. Ibaratnya, jika kamu mencintaimu pasanganmu 100%, perasaan itu akan berkurang menjadi 80% saat pasanganmu mengecewakanmu pertama kali. Dan akan terus berkurang untuk kekecewaan2 berikutnya."

"Baik Rana, aku sudah puas dengan jawabanmu". Tutup Alea sambil mencubit pipiku. Aku tersenyum simpul

Comments

Popular Posts