ELUSIF

"Bagaimanapun, ini tidak pernah mudah pada awalnya."

Sejak pertama kali dekat denganmu, aku terbiasa menerima perlakuan terbaikmu.
Kamu selalu bersikap manis padaku, menuruti segala mauku, memperhatikanku, hingga menjagaku sedemikian rupa.
Kamu selalu membuatku merasa begitu dihargai.
Jujur saja, acap aku melihatmu layaknya malaikat.
Didekatmu aku selalu merasa tenang, bersamamu aku tidak pernah ketakutan.
Kamu selalu berhasil menghadirkan rasa nyaman. Kamu begitu meyakinkan tanpa perlu tutur berlebihan.
Aku jadi terbiasa menganggapmu sebagai sosok yang sempurna. Hingga aku lupa bahwa kamu juga manusia.

Kala itu, kamu menundukkan muka tidak berani menatapku.
Katamu, kamu tidak sebaik yang aku pikirkan.
Katamu, aku menilaimu berlebihan.
Kamu menjelaskan satu hal yang sulit aku pahami.
Dan Jujur aku kecewa.
'Bagaimana bisa aku memandangmu sama? Bagaimana bisa aku mempercayaimu lagi sesudah ini?' pikirku.
Aku mengukir wajahmu, entah mengapa begitu menyakitkan.

Malam ini aku tidak bisa tidur. Aku menimbang-nimbang banyak hal, menerawang jauh kedepan.
Lalu aku menyadari sesuatu.
Bisa jadi ini bukan soal kamu, tapi soal aku.
Barangkali ekspektasi eksesif itulah yang membuatku kecewa manakala kamu mulai menunjukkan sisi manusiamu.
Boleh jadi ini kesalahanku, bukan salahmu. 

Kamu pernah membuat kesalahan. Akupun pernah.
Kamu tidak sempurna. Akupun tidak.
Itu kenapa kita masih dinamakan manusia.
Dan sombong namanya jika aku menganggap diriku lebih baik hingga tidak bisa menerimamu.
Tidak adil rasanya, jika aku jadi menutup mata atas apa yang kamu lakukan padaku selama ini.
Bagaimanapun, kamu yang aku kenal adalah kamu yang sekarang.
Bagaimanapun, aku yakin kamu telah banyak berubah.

Aku sadar, semakin aku kecewa, justru rasa kecewa itu yang akan menyakitiku lebih dalam, membunuhku dalam diam.
Dan inilah hasil akhirnya, aku memutuskan berdamai dengan diriku sendiri.
Aku memutuskan akan menerimamu sedalam-dalamnya, dengan segala buruk dan baikmu, atau kuat dan lemahmu, saat senang maupun susahmu, dari masa lalu hingga masa depanmu. 

Aku tidak bisa egois. Ini bukan hanya tidak mudah bagiku, tapi tentu juga bagimu.
Seharusnya aku menghargai kejujuranmu.
Seharusnya aku menyanjung keberanianmu mengungkapkan suatu hal yang besar artinya.

Terakhir, aku ucapkan terimakasih. Terimakasih sudah mau terbuka. Terimakasih sudah mencintaiku dan menerimaku apa adanya. Terimakasih sudah mempercayaiku. Terimakasih banyak.
Tetaplah jadi dirimu sendiri. Ajak aku untuk berubah menjadi lebih baik bersama. Semoga kamu lebih bijak dalam segala hal, begitupun juga denganku.

Semoga kamu paham, sebesar apapun rasa kecewaku, rasa sayangku jauh lebih besar.

Comments

Popular Posts