Ketika Hujan Turun


                     Namanya Karenina. Namun teman-temannya biasa memanggilnya Kai. Ia baru duduk di bangku kelas 2 SMA. Kai bukanlah gadis yang manis. Ia tidak terbiasa dengan parfum beraroma menyengat melekat pada tubuhnya, bedak menempel pada wajahnya, ataupun gincu tipis terulas di bibirnya──seperti teman-teman sekolahnya kebanyakan. Dan Kai bukan pula gadis yang anggun. Bicaranya keras, cara berjalan dan duduknya serampangan, serta bahasa  tubuhnya cuek dan apa adanya. Tidak ada yang istimewa dalam diri Kai. Walau begitu Kai memiliki banyak teman. ia supel dan ramah, dan sangat suka berbagi.
            Adalah di bulan Desember, dimana hujan hampir turun setiap hari. Kai masih berada di koridor Sekolah. Ia memandangi hujan sambil mengutuk dalam hati, menyesali kebodohannya lupa membawa payung saat berangkat sekolah tadi. Karena Kai biasa pulang dengan berjalan kaki, payung adalah hal yang sangat penting jika sudah musim hujan begini. Kai melirik jam tangan untuk kesekian kalinya, ia sudah menunggu hampir dua setengah jam, dan hujan belum juga mengeluarkan tanda akan reda. Sekolahpun sudah sepi sejak setengah jam yang lalu. Jika saja seragam yang ia pakai sekarang tidak akan dipakai lagi besok, mungkin Kai akan nekat.
Tiba-tiba sebuah payung terulur di depan matanya. Kai menoleh keatas.
“Pakai aja” Kata orang itu.
Dia adalah Eza, murid kelas 3 yang menjadi favorit cewek satu sekolah.
“Nggak dipakai?” tanya Kai.
“Aku bawa mobil kok... Daritadi aku lihat kamu belum pulang, jadi aku rasa kamu butuh ini” jawabnya sembari masih mengulurkan payung.
Dengan ragu Kai mengambil payung itu. Kemudian Eza tersenyum, membuat lesung terbentuk di kedua pipinya, menambah pesonanya. Kai terkesiap. Teman-temannya benar, Eza memang tampan. Seketika darah Kai berdesir.
“Terimakasih ya... besok aku balikin”
Kai beranjak dari tempat duduknya, kemudian membuka payung. Ia menoleh pada Eza sekali lagi sambil melemparkan senyum tanda terimakasih, sebelum akhirnya bergegas pulang.
***
            Bel pulang sekolah berbunyi dengar sangat nyaring. Dengan terburu-buru, Kai langsung membereskan barang-barangnya. Kai keluar kelas sesaat setelah gurunya keluar. Langkahnya begitu tergesa-gesa, dan dipergelangan tangannya tergantung payung milik Eza. Kai menaiki tangga menuju lantai dua dengan cepat, menimbulkan suara gaduh. Dua ruangan lagi menuju kelas Eza, Kai segera memperlambat jalannya, kemudian menata rambut dan pakaiannya. Ia siap menatap wajah Eza lagi hari ini.
“Terimakasih ya payungnya” Kata Kai sembari menyerahkan payung kepada Eza.
Eza menerimanya sambil tersenyum tipis, membuat Kai kembali terpana. Setelah itu Kai membalik badan, bergegas pulang. Namun baru satu langkah...
            “Karenina...”
Jantung Kai serasa mau copot. Ia tidak salah dengar, Eza baru saja memanggilnya. Padahal tidak ada name badge tertempel di bajunya, jadi darimana Eza bisa tau namanya?
            “Iya?” Kai membalik badan.
            “Jadi gini caranya berterimakasih?”
“Ya emang harus gimana?” Kai mengernyit bingung.
“Kamu harus traktir aku makan”
Karenina seperti sulit bernafas. Bagaimana tidak? Melihat wajah Eza hari ini saja sudah membuatnya senang──walau sebentar, apalagi jika harus menamaninya makan. Seperti mesin otomatis, Kai langsung mengangguk setuju.
            Restoran jepang di kawasan Ciputra World Mall menjadi pilihan mereka berdua─ pilihan Eza lebih tepatnya, karena Kai hanya menurut saja mau dibawa kemana. Eza sudah hampir mengosongkan piringnya, namun Kai baru melahap dua potong sushi yang dia pesan. Entah mengapa perutnya terasa begitu kenyang, padahal Kai belum makan siang.
            “Kok nggak dimakan? Kepikiran cara bayarnya? Hahaha...” Goda Eza.
            “Enggaklah... Aku cuma kenyang aja” Kata Kai sambil tersenyum kecut.
            “Tenang aja... aku yang bakal bayar kok. Kamu nggak usah traktir”
            “Oh iya sepertinya film Civil War bagus. Kamu buru-buru pulang nggak? Temani aku mau?” pinta Eza sambil menatap mata Kai dengan tatapan memohon. Dan Kai akhirnya mengangguk perlahan setengah tak percaya dengan permintaan Eza. Hatinya seperti lapangan yang dibuat konser, riuh sekali.
***
            “Filmnya bagus, ya!?” Tanya Eza. Kai meng-iyakan, walaupun Kai samasekali tidak tahu jalan ceritanya. Sepanjang film tadi Kai lebih asyik mencuri-curi pandangan ke Eza dan mengatur detak jantungnya sendiri. Setelah nonton, Kai dan Eza berkeliling Mall dan menghabiskan waktu bersama. Toko buku adalah tempat yang selanjutnya mereka kunjungi, kemudian kedai ice cream, dan terakhir ke toko kaset sebelum akhirnya Eza mengantarnya pulang. Seiring waktu, Kai tidak lagi canggung. Ia sudah mampu menguasai situasi, apalagi Eza ternyata sangat asyik diajak mengobrol dan bercanda.
            Semanjak hari itu, Kai dan Eza menjadi semakin dekat. Obrolan mereka berlanjut ke chatting. Setiap pagi mereka saling menyapa satu sama lain. Ezapun selalu mengantar Kai pulang. Dan seringkali mereka makan di kantin berdua. Tak sedikit teman-teman mereka menggoda saat mereka terlihat bersama. Dan tak sedikit pula yang cemburu melihat kedekatan mereka.

Karenina. Surabaya, 03 Januari 2016.
            Sudah hampir sebulan sejak dia meminjamkan payung itu. Aku kaget sekali saat itu. Saat aku sudah putus asa karena tidak bisa pulang, tiba-tiba dia datang menyelamatkan. Dan aku nggak nyangka bisa sedekat ini dengannya. Dia adalah orang pertama yang bisa buat aku begitu canggung berhadapan dengan orang. Dan dia orang pertama yang membuat aku merasakan bagaimana senang setengah mati ataupun resah setengah mati. Padahal awalnya aku sangat tidak tertarik saat teman-teman sekelasku membicarakan dia. Aku pikir dia cuma cowok berwajah tampan namun tidak ber-etika. Namun ternyata aku salah. Dia sosok yang baik, asyik, pintar, dan manis. Walaupun banyak yang suka sama dia, tetapi itu nggak membuatnya menjadi lupa diri, sok, dan sombong. Dia tetap santun, dan sangat menghargai orang lain. Dia memang pantas menjadi idola.
Tapi pertanyaannya sekarang kenapa harus aku? Padahal tidak ada yang istimewa dari aku. Padahal aku tidak pintar berdandan. Padahal banyak cewek lain berparas jauh lebih cantik sedang menunggu dia disana. Jadi, kenapa harus aku?
***
                      Bertepatan dengan bel pulang sekolah berdering, satu pesan masuk ke ponsel Kai. Dari Eza ternyata, Kai segera membacanya.
‘Kai, temui aku di taman belakang sekolah’.
Tanpa pikir panjang, Kai segera berjalan menuju taman belakang sekolah. Sesampainya disana, ia mendapati sosok Eza duduk pada salah satu bangku panjang. Kaipun mendekat, dan Ezapun berdiri saat ia menyadari keberadaan Kai.
                      “Ada apa?” tanya Kai penasaran.
                      “Jadi, aku mau ngomong sesuatu sama kamu” kata Eza sambil meraih kedua tangan Kai dan menggenggamnya. Perasaan Kai campur aduk, jantungnya sudah seperti mau copot, dan suhu badan Kai turun seketika.
                      “Mungkin ini waktu yang tepat” lanjut Eza, membuat Kai semakin kehilangan kendali atas dirinya. Kepalanya mendadak pening memikirkan kemungkinan yang terjadi, lidahnya kelu, dan kakinya melemas. Rasanya titik tumpu tubuhnya berada pada kedua telapak tangan yang di genggan Eza.
 Sudah sangat dekat sekali, tinggal beberapa kata lagi....
                      “Kai... Selamat ulangtahun yang ke-17!!” Ucap Eza.
                      “HAPPY BIRTHDAY TO YOU... HAPPY BIRTHDAY TO YOOUU!!!”
Bersamaan dengan itu ternyata teman-temannya sudah berada di belakangnya. Mereka membawa kue tart besar dengan lilin berbentuk angka 17 dan menyanyikan lagu ulangtahun untuk Kai. Teman-temannya semakin mendekat kepada dirinya, heboh sekali. Namun Kai masih terpaku. Ia kembali manatap Eza.
                      “Jadi, selama ini kamu bohong?” tanya Kai pada Eza, matanya memanas.
                      “Bukan begitu... aku cuma membantu teman-temanmu untuk menyiapkan kejutan” Jawab Eza dengan enteng. Kai menatap Eza tajam, dengan mata berkaca-kaca. Eza melan ludah, seketika merasa bersalah. Teman-teman Kaipun langsung diam menyadari perubahan suasana tidak seperti yang mereka harapkan. Kaipun berbalik, ganti menatap teman-temannya satu persatu.
                      “Maafin kita ya Kai... kita pingin bikin kejutan buat kamu. Kita bingung gimana caranya ngerangkai kejutan buat kamu karena kamu orangnya cuek banget. Kamu sendiri pernah bilang belum ada cowok yang bisa bikin kamu tertarik. Akhirnya kita coba minta tolong Kak Eza buat coba deketin kamu dan ternyata berhasil” Jasmine menjelaskan dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap Kai.
                      “Maafin aku juga Kai... seharusnya aku nggak terima tawaran ini. Tapi kita tetap teman kan? Kamu orangnya baik dan asik” kata Eza, membuat Kai kembali menatap Eza.
Kai menghela nafas. Lidahnya terasa kelu.
                      “Terimakasih ya teman-teman... Aku bener-bener terkejut” ucap Kai dengan nada setajam mungkin.
Kemudian Kai memalingkan muka dan beranjak pergi. Ia tidak mau seorangpun melihat air matanya menetes. Hancur sudah perasaan dan harapan Kai. Kai menyesali kebodohannya bisa semudah itu percaya pada orang. Dan ini merupakan ulang tahun terburuknya. Tak berapa lama hujanpun turun, namun Kai memilih tetap berjalan pulang. Ia tak menghiraukan badan dan tasnya yang basah. Isak tangisnya menggabungkan irama dengan nada hujan.
Tidak ada yang mengulurkan payung lagi...

Millennia Rasyida L.
Majalah Ekspresi Smanisda edisi II 2015-2016.



Comments

Popular Posts